Ngamumule Lembur: Menghidupkan Kembali Nuansa Sunda 70-an melalui Wisata Alam, Budaya, dan Jejak Sejarah di Kaki Gunung Galunggung

22 August 2026 Oleh: Admin Pemdes
Ngamumule Lembur: Menghidupkan Kembali Nuansa Sunda 70-an melalui Wisata Alam, Budaya, dan Jejak Sejarah di Kaki Gunung Galunggung
Desa Santanamekar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, memiliki beragam potensi alam, budaya, dan sejarah yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat. Potensi tersebut mulai dikenalkan melalui kegiatan Ngamumule Lembur, yang mengusung konsep pelestarian alam, budaya, sekaligus sejarah lokal Santanamekar. Ngamumule Lembur menghadirkan konsep camping dengan nuansa kehidupan masyarakat Sunda era 1970-an. Pengunjung diajak menikmati suasana berkemah yang sederhana dan dekat dengan alam, tanpa bergantung pada fasilitas listrik. Suasana tersebut diperkuat dengan penyalaan 1.000 obor yang menghadirkan nuansa kehidupan masyarakat pada masa lalu. Berbagai kesenian Sunda juga turut ditampilkan sebagai bagian dari upaya mengenalkan kembali budaya tradisional kepada generasi saat ini. Konsep tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman rekreasi, tetapi juga menghidupkan nilai kebersamaan, gotong royong, kesederhanaan, serta kepedulian terhadap lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda. Berada di kaki Gunung Galunggung, Santanamekar memiliki potensi alam yang menarik, salah satunya panorama citylight hingga 180 derajat dengan latar Dinding Ari-Ari Gunung Galunggung. Selain itu, terdapat Curug Batu Blek yang menjadi salah satu potensi wisata alam desa. Curug Batu Blek dapat diakses melalui dua jalur, yaitu Leuwibodas dan Cipeteuy. Jalur Leuwibodas relatif lebih nyaman dengan kondisi akses yang lebih baik, sementara jalur Cipeteuy memiliki medan yang lebih menantang dengan beberapa bagian jalan yang cukup curam. Perbedaan karakter kedua jalur tersebut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan menuju kawasan curug. Di balik potensi alamnya, Santanamekar juga memiliki sejarah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Desa Santanamekar merupakan hasil pemekaran wilayah Desa Cisayong. Nama “Santana” diambil dari Ali Santana, yang dikenal sebagai kepala desa atau kuwu pertama Desa Cisayong pada masa lalu. Sejarah tersebut menjadi salah satu bagian yang menghubungkan Santanamekar dengan perjalanan pemerintahan dan kehidupan masyarakat di wilayah Cisayong. Selain sejarah asal-usul desa, Santanamekar juga memiliki kisah perjuangan masyarakat yang hingga kini masih dikenang, salah satunya adalah perjuangan Mak Eroh. Sosok perempuan asal Santanamekar tersebut dikenal karena kegigihannya memperjuangkan akses air bagi masyarakat dan lahan pertanian. Dengan peralatan sederhana dan tanpa bantuan mesin, Mak Eroh mengerjakan cadas dan tebing terjal selama bertahun-tahun untuk membuka saluran air. Saluran tersebut kemudian membantu mengalirkan air ke lahan pertanian masyarakat yang sebelumnya mengalami kekeringan. Atas perjuangannya dalam bidang lingkungan, Mak Eroh menerima penghargaan Kalpataru pada 1988. Kisahnya hingga kini menjadi bagian dari sejarah dan warisan masyarakat Santanamekar. Melalui Ngamumule Lembur, alam, budaya, wisata, dan sejarah tersebut dirangkai menjadi satu cerita tentang Santanamekar. Kegiatan ini tidak hanya menawarkan pengalaman wisata dan camping, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi lokal sekaligus mengajak masyarakat menjaga lingkungan, budaya, serta cerita sejarah yang menjadi bagian dari identitas desa. Ngamumule Lembur menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai lokal sekaligus memperkenalkan Santanamekar sebagai wilayah yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang layak untuk terus dijaga dan diwariskan.
Bagikan Berita

Komentar Pembaca

0 komentar terverifikasi

Tulis Tanggapan Anda

* Komentar akan melalui proses moderasi sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan untuk berita ini!